Hot
    Responsive Ads
    Home Blitar Budaya Sejarah

    Sejarah Blitar, Pusat Peradaban Sejak Abad ke-10

    "Jejak prasasti dan candi menandai peran Kabupaten Blitar sebagai pusat peradaban sejak abad ke-10 hingga era Majapahit, termasuk penetapan hari jadi"

    4 min read

    -
    Sejarah Blitar, Pusat Peradaban Sejak Abad ke-10

    Achmad Fauzan Penulis | Muklis P. Editor

    BLITAR, HARIANEXPRESS – Jejak prasasti dan candi menandai peran Kabupaten Blitar sebagai pusat peradaban sejak abad ke-10 hingga era Majapahit, termasuk penetapan hari jadi 5 Agustus 1324.

    Kabupaten Blitar menyimpan jejak panjang sejarah Jawa Timur. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Blitar telah muncul dalam catatan kuno sejak abad ke-10, terutama melalui prasasti dan tinggalan arkeologi. Bukti-bukti ini memberi petunjuk tentang peran Blitar dalam jaringan politik dan keagamaan pada masa kerajaan Hindu–Buddha. Catatan tersebut juga menguatkan gambaran bahwa Blitar tidak sekadar berada di pinggiran kekuasaan, melainkan turut membentuk lintasan peradaban lewat permukiman dan pusat-pusat ritual yang tumbuh dari masa ke masa.

    Jejak prasasti sebagai dasar sejarah

    Penelusuran sejarah Blitar banyak bertumpu pada prasasti. Dalam catatan resmi disebutkan tidak ada prasasti yang menuliskan “Blitar” sebagai pusat pemerintahan pada masa awal. Namun, banyak prasasti menyebut desa atau tempat yang kini termasuk wilayah Kabupaten Blitar. Hal ini penting karena prasasti merupakan bukti autentik yang dapat ditelusuri kembali, sehingga narasi sejarah berdiri di atas data yang lebih kuat.

    Prasasti Kinewu dan jejak abad ke-10

    Catatan paling tua mengarah pada Prasasti Kinewu, yang dipahat pada bagian belakang arca Ganesha dan ditempatkan pada abad ke-10. Prasasti ini memberi petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar berada dalam lingkungan kekuasaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah. Fakta tersebut menghubungkan Blitar dengan fase awal pembentukan otoritas politik Jawa pada masa Mataram Kuno.

    Dinasti Isana dan deretan prasasti abad ke-10–12

    Ketika pusat pemerintahan bergerak ke Jawa Timur sekitar abad ke-10, jejak Blitar tampil lebih jelas. Sejumlah prasasti dari masa Dinasti Isana menyebut tempat-tempat yang kini termasuk wilayah Kabupaten Blitar, dengan rentang dari awal abad ke-10 hingga akhir abad ke-12. Daftar prasasti yang disebut meliputi:

    • Pandelegan I (1117)
    • Panumbangan I (1120)
    • Geneng I (1128)
    • Talang (1136)
    • Japun (1144)
    • Pandelegan II (1159)
    • Mleri (1169)
    • Jaring (1181)
    • Semanding (1182)
    • Palah (1197)
    • Subhasita (1198)
    • Mleri I (1198)
    • Tuliskriyo (1202)

    Masa Singhasari: tinggalan arkeologi memperkuat peran wilayah

    Jejak berikutnya muncul saat Kerajaan Singhasari berkembang. Disebut adanya prasasti yang terkait wilayah Kabupaten Blitar pada masa pemerintahan Kertanegara. Selain itu, tinggalan purbakala seperti patung Ganesha dari Boro dan Candi Sawentar menjadi bukti bahwa Blitar memegang peranan penting pada masa tersebut. Artinya, aktivitas politik dan budaya tidak berhenti di pusat kerajaan saja, tetapi juga menyebar ke wilayah yang kini menjadi Blitar.

    Masa Majapahit: posisi Blitar makin menonjol

    Pada masa Majapahit, posisi Blitar semakin menonjol dalam catatan sejarah. Disebut keberadaan Candi Kotes yang dikaitkan dengan masa awal Majapahit, termasuk temuan angka tahun pada bangunan suci di kawasan tersebut. Rangkaian ini menguatkan peran Blitar sebagai wilayah yang ikut menopang struktur kekuasaan.

    Pada masa pemerintahan Jayanegara, terjadi pemberontakan pada 1316 dan 1317 di bawah pimpinan Kuti dan Seni. Peristiwa itu membuat raja menghindar ke Desa Bedander, dengan pengawasan pasukan Bhayangkara di bawah pimpinan Gajah Mada. Disebut pula bahwa siasat Gajah Mada membantu Jayanegara kembali menguasai keadaan. Rangkaian konflik ini penting karena memberi konteks politik saat prasasti terkait Blitar muncul.

    Prasasti Blitar I dan penetapan hari jadi 1324

    Puncak penegasan identitas daerah muncul melalui Prasasti Blitar I. Disebutkan unsur penanggalan prasasti tersebut dan dinyatakan 5 Agustus 1324 M sebagai peristiwa penting yang menandai berdirinya Blitar sebagai daerah swatantra. Pemerintah Kabupaten Blitar kemudian memakai tanggal itu sebagai hari lahir Kabupaten Blitar.

    Candi Penataran: jejak besar dari Kediri hingga Majapahit

    Selain prasasti, Blitar juga menyimpan jejak besar melalui candi—yang paling menonjol ialah Candi Penataran. Disebut bahwa nama asli kompleks ini adalah Candi Palah, dan letaknya berada di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Kompleks ini juga dikenal sebagai kompleks candi terbesar di Jawa Timur.

    Proses pembangunannya berlangsung panjang dan bertahap dari masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit, dengan durasi sekitar 250 tahun. Unsur utama kompleks meliputi candi induk, Batur Pendapa, Candi Angka Tahun, Candi Naga, dan petirtaan, serta pembagian halaman depan, tengah, dan belakang yang menggambarkan tata ruang ritual yang berkembang lama.

    Faktor geografis: Sungai Brantas, Kelud, dan sebaran permukiman

    Kondisi alam ikut membentuk sejarah permukiman. Disebut bahwa Sungai Brantas membagi wilayah Kabupaten Blitar menjadi bagian utara dan selatan, dengan perbedaan tingkat kesuburan. Peran Gunung Kelud dan aliran sungai juga berpengaruh pada sebaran unsur hara. Catatan geografis ini membantu menjelaskan mengapa pusat-pusat kegiatan tumbuh di lokasi tertentu dan mengapa jejak sejarah Blitar tersebar pada banyak titik.

    Blitar dalam Nagarakertagama

    Nama Blitar juga disebut dalam Negarakertagama dalam konteks perjalanan Hayam Wuruk ke daerah-daerah Jawa Timur. Disebutkan penulisan naskah selesai pada 1 Oktober 1363 M dan kunjungan raja dikaitkan dengan rangkaian perjalanan yang dimulai pada 1357 M. Disebut pula bahwa peninggalan candi dari abad ke-14 hingga akhir abad ke-15 memperlihatkan posisi Blitar yang makin penting.

    Dari rangkaian bukti tersebut, sejarah Kabupaten Blitar bergerak dari catatan prasasti menuju penegasan hari jadi. Prasasti Kinewu menandai jejak paling awal pada abad ke-10. Deretan prasasti era Isana memperlihatkan kesinambungan wilayah hingga akhir abad ke-12. Peninggalan era Singhasari dan Majapahit kemudian menguatkan peran Blitar dalam politik dan keagamaan. Penetapan hari lahir 5 Agustus 1324 M menutup satu bab penting yang menghubungkan memori masa lampau dengan identitas pemerintahan daerah hari ini.

    Komentar
    Additional JS